Sabtu, 17 November 2012

# Poem 53

mungkin aku lupa,
seperti malam yang melupakan pekat
seperti hujan yang melupakan mendung
aku terperanjat, takjub melihat indah pelangi
selepas hujan biasanya ia datang

ia datang seperti lukisan yang ku ingin
ia datang tibatiba bersama semilir angin
sejuk, menenangkan kalbu ku yang hampir kering

by : Suly Bungsu Kasmaja

17 Nov'12

Selasa, 28 Februari 2012

Poem # 52




"Merenta bersamamu"


menjadilah hingga merenta bersamaku
menjadilah hingga menua dan merunduk bersama
menjadilah hingga uban bagai pasir putih pesisi ini
menjadilah hingga tulang tak mampu lagi menahan payah

menjadilah hingga akhirnya kita bersama menemuiNya
menjadilah hingga akhirnya kita adalah sepasang persiai yang saling melengkapi
menjadilah hingga akhirnya kita tak lagi merasa berbeda
menjadilah hingga aku tak mampu lagi berucap, bahwa aku mencintaimu

mencitai seumpama ombak dengan karang nya
mencintai seumpama langit dengan awan nya
mencintai seumpama hujan dengan rintik nya
mencintai seumpama malam dengan pekatnya

begitulah cinta
begitulah rasa
begitulah jiwa
begitulah asa

kadang menangis
kadang tertawa
kadang terdiam
kadang terbuang 

karena ku ada , kau pun nyata
karena ku disini, kau pun menghampiri
karerna ku tersenyum, kau pun bahagia
itulah kami, biduk cinta dalam seutas pengharapan pada Rabb-Nya 

-----------------------
Ruang diamku
Latai 2 ku, di gedung ini. Terakhir di Februari 29 ,2012
-harus menunggu 4 tahun lagi untuk dapatin tanggal cantik ini-

mari bersemangat

Minggu, 23 Oktober 2011

Poem #51


~semesta asmara~
Wedding Poem by: Suly Bungsu Kasmaja


duhai separuh agamaku

pada jelajah kerinduan yang bertumpuk
menjadi satu bertangkup tangan permohonan
saat hari bahagia menghampiri
untuk ku dan kamu...

duhai Azza yang suci dari cela

Rahman yang tiada kekurangan,
PadaMu bertumpu ke-Maha-an cinta nan sempurna

Maha sempurnaMu

mentautkan cinta gemintang pada malam,
Maha sempurnaMu
mengkisahkan seindah-indah kisah asmara Ali dan Fatimah
Maha sempurnaMu
menjodohkan nur Muhammad pada alam semesta sebagai kekasihMu

Duhai Tuhan Maha Cinta,

sesungguhnya hati-hati kami tlah terkumpul dalam cinta kepadaMu,
maka satukanlah pula bentang perjalanan panjang kami dalam kasih sayangMu,

tiadalah yang kami harap

di hari kebahagiaan nan penuh rahmat ini,
selain izin kasihMu..wahai Rabb penggenggam cinta..
amiin

*****************************

Ruang Jiwa :
Kebagusan , 23 Oktober 2011
Puisi pesanan Trisnia Nurul Latifah a.k.a lembayungmentari.multiply.com

Yang inshaAlloh akan segera menggenapkan separuh agamanya di November nanti, waktu dan tempatnya akan disampaikan sendiri oleh yang bersangkutan.

Barrakalloh Nurul, semoga lancar sampai hari H. Amiin...

Senin, 25 April 2011

Poem #50




Merajuk Cintaku

Dalam sebuah tajuk diantara bait-bait puisi
dikedamaian rasa yang tersusun dalam relung yang kusebut hati
seperti pada pulir-pulir dedauan yang tersibak hembus angin
seperti itulah cinta, yang padanya terselip pengharapan

Untuk hari kemarin yang terlewat
dan terlanjur kutitipkan doa-doa padaNya
sesatir lantun dalam tiap barisnya
pun, aku merajuk pada sujud yang kesekian
kemudian, kubiar deraian membasahi setiap rintihannya

saat ini atau tidak sama sekali, ku ungkap kembali
rasa yang telah mengarat hingga ubun-ubun
yang menjadikanku seperti gelap mata, seperti nanar
mungkin juga telah rabun, pada dunia yang merenta

dan seperti sepasang mempelai yang tesungging merayu
tersyum penuh haru, penuh kidmat
pada tujuan yang hakiki
pada dunia yang hanya tinggal sejengkal meninggalkan kefanaan
begitulah aku seharusnya,...
_____________________
Mampang Prapatan 26 April 2011. 11:23

Selasa, 08 Maret 2011

Poem #49



*Rapuh di sudut pagi*

Serapuh ini kah hatiku
selemah ini kah jiwaku
hingga suaramu yang lembut tak mampu ku dengar
hingga namamu yang agung tak mampu ku sebut

sehina inikah hidupku
ataukah aku sendiri yang tak pernah bisa menghargainya
atau orang lain yang mencoba memporak porandakan
ataukah garis tanganku yang terlanjur terhina

umpama, kali ini adalah terakhir bagiku menangis
atau terakhir bagiku tertawa
apa yang akan ku buat
apa yang akan kau lakukan

lalu, bagaimana bisa kaki ini ku langkah semula
jika rapuh ku pijak bejana
jika renta ku pijak tangga
jika patah ku pijak jambatan

dan aku memilih diam di sudut pagi 
yang mungkin akan menghangatkan langkahku kembali
___________________

Poem by : Suly Bungsu Kasmaja

Selasa, 25 Januari 2011

Poem #48


Minggu, 09 Januari 2011

Poem #47

ketika hatiku sakit
ketika air mataku bersimbah
ketika harus merasa sendiri
ketika hanya ada keluh

tidak
ini bukan pilihan
ini adalah catatan terbaik
ini adalah cerita
antara aku dan hidupku
mungkin juga tentang orang lain

----------
Suly Bungsu Kasmaja

Kebagusan, 12 Juli 2010 20:55

Poem #46

*tembang kasmaran*

semilir lirih riuh lagu kasmaran
bersenandung nada rendah dipetik gitar beriring
mengayun langkah berdampingan
senyum mengembang diantara riuh sorak rebana

langkah kaki disusun seperti kelemanyar bersejajar
nada ketukan tinggi rendah seolah melodi
mata berbinar dikapit celak yang sewarna
gincu tipis merekah di sungging bibir manis merona

terpaku gelatik mencoba menggapit
mengawal sang putri disinggasana terakhir
menjadi pengayom kala mendung bersahut petir
dan saat kali pertama mata bertemu, saat kali pertama berkata
"aku akan mencintaimu semampuku,sesederhana angin yang bertiup kala pagi menjelang"
---------------------
Poem: Suly Bungsu Kasmaja
menjelang tidur,kebagusan 17 September 2010, 12:15
08 Syawal 1431 H

Selasa, 21 Desember 2010

Poem #45



Karena kau ibu, kau mampu

Bahkan untuk kali kesekiannya
dalam sujud yang tak lagi sempurna
dalam tangkup doa yang tersusun dalam setiap pengharapan
setiap waktu, hingga dalam sepertiga malamnya
kau masih dalam sedeku yang khusuk

bulir bening menggerimis di dinding hatimu
memanjatkan segala harap, segala cita
demi kami, anak-anakmu
ibu, entah untuk berapa banyaknya kami ingin memuliakanmu
namun, rangkaian kata inipun tak sebanding dengan indah tentangmu

Saat harus menangis
saat harus tertawa
kau mampu menyembunyika pedih karena kecewamu
kau mampu tampakkan bahagiamu meski lara jiwamu
kau ibu, karena segalanya kau mampu

di penghujung senjamu
dibatas masa yang tak lagi remaja
kau masih terpekur
memanjatkan lafadz-lafadz keagungamu padaNya
kau teguh, tanpa harus terlihat tangguh
karena kau ibu, kau mampu

kau jadikan malam sebagai siangmu
dan membiarkan senyap menjadi teman dalam tiap sujud
dan setiap keindahan, adalah itu tentangmu, ibu
adalah engkau, wahai wanita yang di muliakan dalam sunnahnya
wahai engkau wanita yang tertulis dalam ayat-ayat cintaNya
karena kau ibu, kau mampu

dan, dalam bait yang tak sempurna ini
ku kirimkan selaksa cinta untuk setiap pengorbanmu
setiap tetes peluhmu
setiap tetes darahmu
setiap tetes air susumu
setiap langkahmu
dan setiap masa yang kau habiskan untuk kami, anak-anakmu
karena kau ibu, kau mampu


by: Suly Bungsu Kasmaja
Mampang December 22th 2010, 11:14
______________________________
special for mother day

Kamis, 25 November 2010

Poem #44



Mengebiri Takdir sendiri
*******************

tak sepadan rasanya jika aku hanya menuntut diberikan bintang
tak serupa jika aku menuntut disamakan dengan permata
sebaris kata yang terselip diantara tumpukan keegoisan
hingga mataku mengucur deras rasa tak berdaya

tak perlu hitungan detik lagi
jika memang telah tertuliskan
jika memang telah tertetapkan
lalu apa gunanya doa?

masih terhenti pada bait peralihan kata
pada pergantian musim yang tak lagi sewarna
tergilas rasa yang hanya ingin menjadi pemenang
pun demikian dengan hatiku

air mata bak' musim penghujan 
mengalir deras tanpa bejana penampungan
membentuk genangan yang siap di tumpahkan
membanjiri tiap tangkup tangan yang kututupkan ke muka
apa artinya mengeluh,jika takdir hanya MilikNya
apa gunanya menangis,jika hati telah terpautkan
mungkin,bukan kali ini saja, saatnya nanti aku akan mengerti
________________________________________________
******************************************
[Suly Bungsu Kasmaja]
111110 [11 November 2010] 13:40

Poem #43



*berdamai dengan amarah*
_________________________

ku katakan dalam bait terbatas
"masihkah tersimpan olehmu"
ku tatap lekat dalam sinar yang meredup
temaramnya memudar diantara tembang kesnyian

kutanyakan kembali tentang baris terakhir harapanmu
masihkan tersimpan dalam kertas kusam berwarna seperti kelabu
coretan tentang irama hati yang dahulu pernah ku sampaikan
dan, kali ini ku pertanyakan, ingatkah ?

separuh senja terbenam, dawai hatiku berdesir
lirih terdengar angin yang berbisik, "masihkah kau ingat" , sergahnya.
ah,,,halusinasiku, oh bukan, ini seperti de javu tadi siang
ataukah mimpiku yang tak jua lekas berakhir

ya, kali ini , aku menyerah
tapi bukan pasrah
tapi bukan merasa lelah
hanya sedikit berdamai dengan gejolak amarah
berdamai dengan masalah
_________________
Mampang praptan raya , menjelang Ashar , Kamis 14 oktober 2010, 14:47

by : [suly bungsu kasmaja]

Poem #42



*bahwa,itu adalah dirimu* 


bagai perahu, laju cerita hidupku telah di pertengahan samudera
atau seperti malam yang setia menunggu rembulan
bahkan siang yang tak pernah lelah menunggu petang menjelang
seperti itulah perumpamaannya 


saat mencoba terjaga dari rangkaian drama roman picisan
menyusun lembaran kertas puisi-puisi sendu
kertas warna biru yang pudar warnanya
berdebu dan mungkin menjadi kusam , tak semenarik dulu


ah, , tidaksungguh ,
kali ini aku berani berdalih
bahwa, apa yang kau lihat tidaklah semua semu
bahwa, apa yang telah kau dengar itu tak semua palsu
bahwa, apa yang kau tanyakan tentang senja , itu adalah dirimu
--------------------
Poem by : Suly Bungsu Kasmaja 


Sembari nyari info ttg Taman Wisata Matahari-Bogor
Ruang sepiku yg lg berantakan mirip kapal pecah *lebay 


On September 23th,2010. 11:56

Poem #41



*Kebersamaan pemilik cinta*

Hening,,kesunyian yang menyapa kali ini
Meluruh hatiku di antara suara jangkrik kota yang tak lagi nyaring
mencoba terduduk tuma'ninah di hadapan pemilik cinta
duhai cinta,,,,kekalkan rasa yang ku patri di kedalamannya

Hiruk pikuk kotaku yang menghening sudah
sebagian mata terpejam di kejauhan mimpi-mimpi lelah tidurnya
sebagian yang lain terurai air bening menetes di selah kelopaknya
dan sebagian yang lain,,,,terdiam,duduk rapat menunggu fajar merekah

gemintang menghilang di pelupuk mata
bulan malu mengintip disebalik awan tipis
senyumku mengembang, melihat mentari menari-nari
nyanyian burung pagi menghampiri
mengiramakan melodi lagu syahdu tentang hati

beranjakku dari balik tabir dunia
melangkah pergi menyusuri pagi dengan kesegarannya
menghirup udara dengan kelembutannya
dan ketika kumandang adzan subuh terdengar, kuharap aku berada disana
bersama pemilik cinta yang tak pernah ingkar janjinya,,,
---------------------------
Menunggu subuh,di rumah mewah milik Kaysa Faradis Mahira
Bumi Karang Indah, Lebak Bulus 26 Agustus 2010, 04:40

Poem by : [ Suly Bungsu Kasmaja ]

Rabu, 24 November 2010

Poem #40



*Cinta senja ini*

Senja ini diantara riuh ramai kotaku
Jengkal langkahku perlahan meninggalkan sisa peluh siang tadi
saat gelap menghampiri separo hidupku
aku masih setia dengan qodo dan qadarNya
meski lirih kata lelahku lontar segera

sepoi angin pergantian hari kala mentari berubah memerah
kuning emas terkadang jingga di ufuk barat merona
sendu sedan hatiku, mungkin juga tak berlebihan
jika ku sanding nuansa cinta karenaNya

ya,,aku jatuh cinta, jatuh pada pandangan senja kali ini
cinta pada semua ciptaanNya
bahkan semua,,ataukah ini serakah namanya
entahlah,,,hatiku berkata aku jatuh cinta pada senja kali ini
mungkin karena lama tak kumanja nurani
saatnya adzan bertabuh bedug,,,aku kembali pada malamNya
pada senyap kala pertengahan malam nanti
aku bertemu kembali,,,dengan cinta sejatiku,,
DIA,,,Rabbul izzaty,,,

--------
poem by : Suly Bungsu Kasmaja
senja di dekat rumahku ,,,kebagusan 19 Agustus 2010. 17.26
menjelang buka puasa 9 Ramadhan 1431 H

Poem #39



*Entah*
---------

aku,,ya,,lagi lagi aku,,
sulit ku analogikan perasaan yang mendawai
menjelujur merangkai ungkapan tanpa penghujungnya
aku tertunduk, malu, mungkin juga takut

entahlah, satu kata ini menjadi ampuh menghiburku
saat cemas mulai menggerogoti kepercayaan diri
aku limbung ditengah musim yang tak lagi stabil
aku terduduk, diam, mungkin juga telah gagu

ya,,inilah masa penghujung itu
saat dimana semestinya aku terpekur meniti di jalanNya
tapi apa?!, kau lihat apa tentang diriku
masih tanpa ekspresi sekalipun terik menyengat di ubun-ubun kepalaku

lalu,,masihkan ada ruang dalam keabadian yang terjanjikan
saat kaki kembali melangkah,merangkai tapak yang tertutup debu jalanan
bahkan saat mencoba kembali beranjak meninggalkan luka
aku masih melihat bayangan tanpa wajah yang berdiri mematung
terdiam dan hanya memandangiku,dingin dan angkuh

hariku telah lewat
telah habis
dan aku masih diam seolah tertegun
entah apa yang membuatku terhenti
apa?! entah,,
------------
Ruangsepiku,kebagusan tuesday July 27th 2010. 10:55

poem by : *Suly Bungsu Kasmaja*

Be My Friend

Happy People