Kamis, 08 Juli 2010

Poem #13


*Musyafir Dhoif*

Rintik hujan sore tadi mengiring langkahku yang semakin payah
Ada hati disebalik tabir yang ikut berlari
Entah sadar ataukah telah lumpuh
mati terinjak masa yang menyudutkanku di sudut penat kota ini

Nanar mataku semakin parah
kusapukan pandangan kesekeliling pagar rumah
mengapa semua terasa asing
adakah orang yang masih mengenaliku
adakah mata ini yang telah semakin rabun dengan rumahku sendiri

seperti waktu yang tak perduli lagi
apakah aku demikian lebih parahnya
apakah aku kejam bagai waktu yang semakin meninggalkanku
berlalu dan melenyapkan semua mimpiku

ketika kembali mengingati langkah kaki yang meninggalkan tapak
ketika kembali melihat bekas-bekas luka keniscayaan
kembali teringat akan hati yang yang tercabik
juga ketika mencoba menegakkan pijakan kaki, atau tidak sama sekali

diamlah wahai hati yang meronta
terima takdir atau bahkan kau akan terlupakan
dan menjadi kering dalam penantian yang lebih lama lagi
bukan dalam batas waktu, namun dalam batas masa yang terbatas

*Suly Bintu Kasmaja*
----------------------------
Hasil perjalanan dari Bogor,sepanjang jalan mengispirasiku
26 April 2010, 10:20

Poem #12


*Rindu Ayah*

Kau tau, saat tangan mungil itu bergelayut di pundakmu yang merenta
Kau hanya terbahak, padahal andai aku tau, kau teleh payah saat itu
kau hanya mencoba bertahan,meski bebanku membuatmu terhuyung
kau hanya diam saat rengekan tangisku mengusik waktu istirahat siangmu

Saat rindu ini kembali membuncah
hampir saja dadaku terasa meledak
aku sempoyongan merinduimu disana
aku tercekak, hampir tak bisa berkata-kata

Ketika tangan nakal ini menjambak2 rambut putihmu
kau hanya meringis menahan sakit
kau hanya tertawa kecil
kau tetap biarkan aku membuatmu terganggu

sekarang, anak kecil itu telah dewasa
dan Rindu ini kian membuncah ruah
seperti tumpukan perisai yang hampir hancur
aku merindumu hingga nafasku hampir terhenti

Saat, kutuliskan ini
aku tau, kau tengah melihatku dengan senyum terindahmu
aku tau, kau tengah mengelus kepalaku
aku tau, kau ingin memelukku dan membuatku tak merasa sendiri

teringat saat, kau ajak aku menyusuri hujan rimbun pagi itu
kau gandeng tangan mungil ini
seraya kau katakan "rumput liar itu tidak hina, bahakn rumput liar ini bisa bertahan sekalipun musim berganti hingga berkali-kali"
tapi,,"aku tak ingin melihatmu di injak dan tak berharga, jadilah intan yang kilapnya menerangi sekelilingmu"

pesanmu bagai prasasti yang tak akan lekang dimakan zaman
petuahmu adalah amunisi , untuk ku bertahan
nasihatmu adalah kekuatanku, untuk melangkah lagi
dan rindu ini adalah nyawa untuk ku mengenangmu,,,ayah,,

*Suly Putrinya Ayah Kasmaja*
-------------------------------------
Dedicated: untuk ayahku Kasmaja Bin Sanahmad

Ruang takaful, sepi, sendiri 26 April 2010, 14:45

Poem #11


Kuanggap Sudah

By: Suly Bintu Kasmaja

Sudah banyak masa yang ku tinggalkan
atau bahkan detik-detik yang ku anggap tak berarti
menit yang terus bergeser dari rotasinya
dan aku seperti ini, ketika ku dapati masih sangat faqir

Sudah, banyak tulisan atau untaian kalimat
dirangkai di bingkai dalam bilik hati
menganggap itu telah cukup
tapi ku dapati aku seperti ini, ketika kakiku masih berpijak pada batu yang sama

Sudah berlalu ribuan cahaya yang saling berkelebat
menerpa menerjang liar di pelupuk mata
kusangka itu telah melengkapi hidupku
tapi ku dapati aku seperti ini, ketika tubuhku hanya terisi segumpal daging yang rapuh

Sudah ku uraikan banyak kata dalam satu kali perjumpaan
umpama bunga,ku rasa indah dipandang
di sentuh tangan di buai rasa yang menidurkan
dan melenakan
tapi ku dapati aku seperti ini,
ketika lemah hatiku karena sedikitnya ilmu

Sudah, berapa banyak hati yang kusakiti disana
mungkin angkuh yang terselubung dibalut kesombongan yang hina
rasanya ingin kembali, mengembalikan semua hak mereka
hak tentang bagaimana aku bisa bersikap lembut kepada mereka

Sudah, terlambatkah
atau mungkin kesempatan itu telah tertutup
hatiku sungguh sakit jika mengingat kalian
mungkin saja telah tergores karenaku

Sudah, ku ungkapkan pada kalian
atau kalian tak lagi pernah perduli
dengan perasaan ini
kala hati menghiba simpati kemaafaan
dari lisan yang tak bertulang, dari tulisan yang tak bermoral
--------------------------------------------------------

Ruang Takaful (div.Kafala)

Jum'at mubarrak 23 April 2010 , 15:25


sudah ku upload disini :
 Ikhwatiislam

Poem #10



*Sewarna Cahaya*


dari balik jendela kayu kamarku
berkas sinar rembulan mengintip malu-malu
ku dekati ia dari sebalik tirai yang tersibak jemari
ada balur-balur bekas luka semalam nampak dari serpihan cahayamu

dari titik warna yang tak lagi sewarna
ku coba gores dengan kuas yang tak lagi senada
mencoba melukis warna sinarmu yang tak lagi benderang
seperti saat kali pertama menyorot dunia dengan keindahannya


dari tiap ukiran tulisan tangan yang tak lagi sempurna
ku coba sambung huruf demi huruf biar menjadi satu kalimat
merangkai ungkapan kata yang tak lagi jelas terdengar maknanya
tapi aku ada , dan dalam tiap waktu yang tehitung dari tiap detikannya


dari bait puisi yang ku coba artikan dalam keterbatasanku
mencoba mengerti dengan apa yang sudah ku ucapkan dan belum ku ucapkan
menguji ketahananku dalam tiap derit derita yang tak lagi sakit terasa
karena aku adalah Kebahagiaan itu, dan itu hanya Milik ku


dari sini ku kabarkan, bahwa tak selamanya sinar pecah itu tak sewarna
dengan pelangi, atau lebih dari itu, indah tak sebanding dengan bulan,
karena ia adalah Keindahan sesungguhnya,,,,,,,


*Ruang Tamu, sembari nemenin bundaku nonton TV


Selasa malam Rabu, Tanggal 20 April 2010--> besok 21 April milad bundaku :D , jam Sepuluh lewat tujuh menit.

*Suly Bungsu Kasmaja*

Poem #9


--> Diam Merenda <--

Dalam diam, dalam keterasingan
Sebentuk lamunan yang mengusik hati
dalam balut sunyi, diantara mentari
aku tersandar dalam bangku kosong kemarin

Dalam tatapan nanar pagi buta
langkah kususun memijak tapak tak bertuan
menghapus luka yang tak lagi menganga
bersimpuh diantara daun pucuk dahaga

Dalam sendiriku, sunyi tak lagi mengebiri
kurangkai ribuan kisah hidupku
ada luka, tawa menjadi penawarnya
menjadi utu ketika malamku rengkuh

Dalam tawaku, renyah tanpa lara
ada binar keindahan kalbuku
yang kuserikan hanya untuknya
satu nama dalam doa yang masih ku renda
--------------
April 5th 2010 On Myown birthday

*Suly Bungsu Kasmaja*

Poem #8


*cerita pagi*

Senyap pagi yang mengalunkan tembang kesunyian
Dari balik jendela kamar yang kecil terdengar adzan bersaut
Dari balik keheningan pagi yang memberikan "Ruh" kekuatan
Dari sini aku memulai hari dengan hati penuh pada-Nya

Sebulir air bening, tak lagi menjadi aneh bagiku
Karenanya ia seperti sebuah keharusan ketika bermanja dengan-Nya
Saat isak menjadi kepuasaan, saat tangis tak terhijab
Saat dialog panjang yang berakhir dengan ketenangan Qolbu,,

Duhai Rabb
Kiranya berlebihan hamba dalam meminta sesuatu pada-Mu
Maka, itulah sesungguhnya yang benar dan ada dalam hatiku
Maka, jangan biarkan hamba dhoif ini menjadi tersedu

Gemercik air suci yang sudah kubasahkan
Ada berguguran dosa yang kuharapkan tersapu bersama aliran beningnya
Ada harap akan bersih hati dan semua perilaku
Dan semua mimpi yang kuceritakan pada-Mu tadi malam

dalam bahagiaku
dalam sedihku
dalam semua ceritaku
sudah terlanjur tak ku beri penghalang bagi-Mu untuk mengetahuinya

*Suly Bintu Kasmaja*


*ba'da subuh, ruang sepiku 3x4, Kebagusan March 24th 2010, 05:13

Poem #7



**Yang diam**


- Dalam diam, temaran senja seperti mentertawaiku
-Melihatku hanya terpaku, kau semakin asik menggodaku
-Tak terfikirkankah olehmu, aku sedang duduk di bangku rapuh ini
-Sementara kau hanya tersenyum memandangiku, tanpa mencoba menenangkanku

-Aku masih seperti yang kau kenal dahulu
-Banyak senyum dan tertawa
-Tapi aku tidak gila
-Sungguh ini aku yang merindu

-Rindu saat nafas bertemu dalam satu dawai kehidupan lepas
-Saat waktu sepakat akan kebahagiaan hanya milik kita
-Atau ketika , setiap mata terkagum karena kita dua pasang angsa yang saling berbeda, namun kita punya bahagia

-Dalam diam, selaksa cinta tak bergetar lagi
-Kau, aku, juga mereka
-Seperti patung yang terjemur masa
-Kelam, hitam dan tak lagi semenarik saat kali pertama perjumpaan

-Mengertilah, daun pucuk sembilu, menyayat rasa yang kusimpan sendiri
-Mencabik tenangku kala mata tak lagi mau terpejam
-Menggores luka yang sudah lama menganga
-Dan dalam diam,,temaram cahaya tak mampu lagi menjadi teman kesendirian
-----------------------

**hanya iseng by Suly Kasmaja**

Januari 21st 2010

Catatan Hati #2

"mengertilah,,!"
"ku pikir kau pun sudah tau jawabanku bukan?!"
"aku tak akan pernah bisa mendengarkanmu".

Langkah kaki tak teratur itu menyisakan tapak kaki keterpurukan hati. Ada bulir perih yang amat sangat disana. Hatinya runtuh, relung hatinya tercabik. Bola matanya tak lagi sanggup membendung aliran bening, yang kemudian mengalir menyusrui lekuk di persimpangan lubang hidungnya yang memerah menahan amaran dan cemburu.

"apa yang kau mau?!"
"aku bahkan tak punya sedikit bukti"
"selalu bukti yang kau mau"
"tidak kah cukup bagimu rasa cinta yang tulus ini terhadapmu"
"ku mohon mengertilah, pahami aku yang amat mencintaimu"
"jangan biarkan rasa cinta ku ini memudar".

Isak tangis yang kian menyesakkan rongga dadanya. Wajahnya kian terlihat kusut, badanya bergetar menahan perih di hatinya. Suaranya serak, tatapannya nanar. Hatinya benar-benar hancur.

"aku mohon,,,jangan biarkan aku pergi"
"peganglah erat tanganku"
"tetaplah ada disini"
"maafkan aku yang tak pandai memberimu cinta yang bahagia"
"aku hanya punya cinta yang sederhana"
"lengkapilah hidupku dengan seluruh cinta yang kau punya"

Malam kembali hening, hanya terdengar isak tangis. Hanya ada dada yang tersengal, hanya ada mata yang sembab. Hanya ada suara lirih yang mengatakan "sakit". Tidak ada percakapan senelangsa ini, ini kisah yang membuat kedua anak manusia itu saling merasa memiliki.

Hening, membuat mereka lupa akan waktu yang telah larut, dan membuatnya lelah dengan tangisan yang pilu. Lalu tertidur dan, saat pagi menyingsing, keduanya seolah tak mengenali satu sama lain.

Kicau burung menegurnya, suara anak2 berlarian meneriakinya, tamparan sang fajar tak lantas membuatnya terbangun dari mimpi2nya. Sunyinya pagi seolah tak membekas dalam sanubari yang telah terkoyak.

Dapatkah kembali, bintang kejora dengan sinar yang lagi pernah mau redup. Bisakah merekanya bibirnya karena senyumannya kembali mewarnai hidupnya. Dapatkah tawa riangnya memenuhi sanubari yang terperih rasa.


>>>Dialog dua hati
---------------
January 21st 2010

Suly Bungsu Kasmaja

Rabu, 07 Juli 2010

Catatan Hati #1 | Sepenggal dan Tak Utuh




**Sepenggal dan tak menjadi Utuh***


Sering kali manusia hanya bisa melihat bagian cerita yg tinggal sepenggal di hadapannya,,

Atau kadang manusia hanya melihat cerita di awal,tanpa menyelesaikan akhir dari cerita itu,,

Lalu masihkah kita lantas menjadi penonton yang hanya bisa menikmati sepenggal cerita yang tak menjadi utuh?

Saat harus menangis, atau harus mentertawakan orang lain
Saat harus menyesal, atau mengumpat orang lain
Saatnya instropeksi diri, saatnya menyadari, saatnya kembali

Bahwa kau hanya manusia biasa, tetapi bukan manusia lemah, tetapi bukan manusi kuat, tetapi tidak juga menjadi sombong karenanya.

Bukan,,bukan seperti itu yang ku maksudkan
Tetapi, cobalah melihat manusia dari banyak sisi, jika saat ini aku terjatuh, kau terjatuh, mereka yg terjatuh,,jangan sekedar memberi Pengadilan, jangan pula memberi Hukuman, tetapi setidaknya Lihatlah dengan Hatimu yang paling bersih

dan aku masih disini, karena DIA aku bertahan, karenaNya-lah aku masih sanggup meski berjalanku harus tertatih, tidak seperti kalian, yang dengan mudah melangkah, bahkan kau bisa berlari kencang mendahului, entah sudah sampai belahan dunia yang lain, tetapi aku masih disini, masih dalam aku yang kau tau tetap seperti ini.

Karena aku disin, dan Kalian bukanlah aku

-------------------
February 4th 2010

by: *Suly Bungsu Kasmaja

Poem #6


**Mengapa?**

Apa yang membuatmu meninggalkanNya
Sementara waktu saja masih sepakat dengan mau kita
Apa yang menjadikanmu menjadi bimbang
Sementara mereka saja masih ada bersama kita

Saat hati tak bersimpati
Taukah, bahwa ada hawa lain dari sudut masa
Dari DIA sang maha melihat
tentang kita dan semua laku kita

Kemana kaki membawa setumpuk noda
Dari ujung dunia belahan manapun niscaya kau tak akan mampu
bahkan untuk sekedar lari atau memilih bersembunyi daripada-Nya
Apakah kau merasa tenang meninggalkannya?

Mengapa?
Padahal hanya itu saja yang tersisa bukan
Taukah bahwa keimanananlah yang akan mengembalikan fitrah kita
Mengembalikan ingatan kita,betapa Allah mencintai orang-orang yg menyeru padaNya

Tak ada salahnya jika memang Cinta ada padanya
Dalam diri seorang hamba yang memiliki akal seprtiku atau sepertinya
Karena Cinta , maka lahirlah generasi-generasi robbani seperti kita
yang dahulu pernah lantang menyuarakan asma-asma Allah penuh ghiroh,,,

Lalu, sekarang, ketika satu hal itu kau abaikan
kau seperti lalat kecil yang menjijikan
tetapi bukan itu yang ku inginkan daripadanya
kau tetaplah mutiara yang terkilap,andai saja kau mau kembali

Ya Rabb,,salahkan jika diri menyanjung raga ciptaanMu
karena anugerah ini menjadikanku melupakanMu
Kembalikan aku padaMu wahai dzat yg maha Rahman Rahim
kembalikanlah dalam fitrah manusia yang luhur lagi suci

atau jangan pernah ada lagi berada di muka bumi ini

by: *Suly Bungsu Kasmaja
Februari 8th 2010
Depok

Poem #5


**Rumput liar bukan Benalu**

Maka biarkalah kali ini saja
Pijakan kakiku mulai menapak dengan kuat
Maka biarkanlah kali ini ku melangkah sekali lagi
Meski sempat terhenti oleh keangkuhan duniaku

Jika masih ada rasa, maka itu adalah mutlak milikku
bukan milikmu,miliknya atau lebih daripadanya
Jika ada benci,maka biarkan benci hanya pada kelaliman
Maka biarkan kebodohan itu ku buang bersama waktu yg berlalu

Lihatlah,,
Betapa tangguhnya aku
Karena aku bukan saja rumput liar
tapi aku ilalang yang dapat tumbuh dimana aku mau
tapi bukan benalu sepertimu,atau mereka

Sekarang bagaimana?
siapa yang akan menuai benih busuk itu
aku,kamu,kalian atau semua orang
tentu tidak, karena jika tidak sanggup berkata bijak
Maka Diamlah!!

*Suly bintu Kasmaja*


Ruang sepi 3x4, Kebagusan February 12st 2010 (9 tahun) dalam kebahagiaan


Poem #4


**Sejenak berkata-kata**

Ada hati dalam pelupuk mata
Ada rasa dalam balut luka
Seperti dalam titian mimpi para bidadari
Yang mencoba tersenyum meski dalam perih

Kau takkan pernah tau rasanya bahagia
Tanpa kau rasakan betapa laranya duka
Atau bahkan kau takkan pernah merasa sakitnya luka
Jika kau tak mencoba untuk mengobatinya

Meski hanya satu kali berkata
Ku tak pernah akan lupa akan hari dimana kita ada
Dimana mata tertutup malu, karena indah lakumu
Sementara hari masih belum berubah

Sejenak langkah ku henti
Bersama waktu yang tak mau perduli
Padaku, atau pada kalian
Tetapi aku bukan benalu yang akan berkarat

Aku adalah rumput liar yang tak berarti
Itu katamu, tapi tidak kata ku
Meski seperti “suket rayutan”, aku tetap bertahan
Hingga Maut tak lagi segan mengambilku dan menghakimiku
-----------------------------

**Poem by Suly Kasmaja**

February 11st 2010

hanya sejenak berpuitis

sudah ku posting disini jg : SINI dan Sini

Poem #3


*Pergi saja*

Pergilah,,
Pergi sejauh inginmu
Pergilah sajauh kau mampu pijakankan kaki
Pergi dan sebaiknya tak kembali

Sudah dari semua,
Langkahmu itu lebih jauh dari dugaanku
Juga aku,yang pernah memaksa untuk singgah sejenak
Kupikir akan bisa sama-sama melangkah, tetapi tidak

Jika dusta,katakan dusta
Perjalanan itu bukan sebuah kata dusta
Tapi, perjalanan adalah langka dimana kaki saling terayun beriringan
Saling menjaga dan melindungi,mengarahkan jalan yang sama

Jika kebenaran yang terucap
Bukankah kebohongan yang justru terlihat
Dari wajah yang kupikir penuh dengan kearifan
Mungkin aku yang terlalu naif,bodoh dengan kata ungkap Robbani

Pergilah,,,
Jika perlu,menghilanglah
Atau mati saja, jika memang itu yang terbaik
--------------------------------

Ruang sepi 3x4,Kebagusan Februari 11st 2010 20:26

*Suly Bungsu Kasmaja

Poem #2






--> Hening sendiri <--

Dalam hening, dalam kesendirian mahluk
Ada bulir bening mengalir lembut
Menetes membasuh kusut wajah yang terbalut sendu

Ada haru yang menyeruak
Ada hati yang menderu rindu
Mendayu kata-kata penuh isak
Dalam sepenggal malam yang dijadikannya kawan

Pekat pagi tadi, atau bahkan sudah menjadi fajar
Hatinya masih luluh
Dalam doa yang mengebiri laku
Insyaf akan dosa kemunafikan juga ketidakberdayaan

Kepada siapa lagi
Kepada siapa membawa diri
Hanya seonggok daging yang tak berarti
Juga hati yang terpercik tinta hitam kesilafan

Ya,,,Ghofur,,bukankah Engkau yang Maha Pengampun
Ya,,,Rahman,,,bukankah Engkau pula yang Maha Penyayang
Ya,,,Latif,,,,Kau pula yang Maha lembut

Lembutkan hatiku ya Muqolibbal Qulub,,,
Tundukkan hatiku yang teramat sombong dengan kemewahan mimpi dunia
Atau,,,jika tidak,,Engkau sungguh sebaik-baik pemutus segala kebaikan 
Ampuni hamba dan kami, kita, mereka,,,juga diriku,,

**Ruang terbuka 5x3**, January 28th 2010

By: *Suly Bungsu Kasmaja





Poem #1



--> Sampah Serapah <--


Memangnya siapa aku ini
Kau anggap apa? 
Sehingga semua keluh kau timpahkan
Seluruh peluh kau uraikan terhadapku

Memangnya apa salahku
Salah siapa?
Aku kah, atau kau, atau bahkan orang lain
Mengapa harus aku

Bukankah kotak sampah banyak di luar sana
Kenapa memilih aku yang kau jadikan sebagai pembuangan
Penampungan tiap rasa, tiap asa, bahkan tiap bahagiamu
Bukankah itu artinya aku Naif

Sampah siapa
Siapa yang menjadi sampah, aku, kau atau mereka
Tapi,,,kau tau....mereka itu telah menjadikanku tong sampah kotor
Sama kotornya saat kau lemparkan sisa makan yang baru saja kau habiskan

Kejam sekali
Apakah harus mengumpat, lalu kemudian kau menyadarinya
Sadar betapa biadabnya niatmu itu
Pergilah sejauh mungkin kau bisa berlari
Bawa serta setumpuk sampah , sumpah serapah dariku

Larilah sejauh kau dapat
Bersembunyilah, hingga bau busukmu tak lagi bisa ku cium
Pergilah sebisa kau dapat
dan Jangan pernah ganggu hidup yang sudah kadung kusimpan sendiri

,,,,dikejauhan rasa yang tak menjadi nyata,,,,

**poem Suly Kasmaja**


Januari 27th 2010

Minggu, 15 November 2009

Kisah dua Hati


Ada sebentuk hati yang sudah terisi penuh oleh sebuah rasa Cinta yang begitu besarnya, hingga pada suatu hari sebentuk hati ini merasakah kebahagiaan yang berlebih-lebih, hingga tetesannya meluber dan tak terwadahi. Suatu ketika, tautan dua hati ini sering kali terhinggapi rasa saling Cemas yang teramat sangat, keduanya saling menyadari bahwa mereka tak bisa menahannya hingga waktu kebersamaan itu segera hadir dan saling memberikan luapan kasih sayang. Dalam perjalanannya menuju singgasana keromantisan, acap kali badai menerpa kedua hati. Mereka pontang panting, mencoba menahan debu yang sering mengaburkan pandangan mereka, bahkan dalam satu kesempatan satu hati kembali merasa terjatuh dan Sakit. Mereka saling mencintai dan saling melengkapi satu sama lain, lalu mengapa dua hati ini masih terpisah, akan kah takdir benar2 mempersatukan mereka dalam tautan Cinta sebenar yang penuh keridhoan dari sang pemilik cinta?? Hanya hati yang bersih yang akan bertahan, dan akan terus bertahan,,, Karena ini adalah kisahku, kisah hatiku dan hatinya,,,, Semoga Allah mendengar tiap derit tangisan kita karena memohon ingin segera di pertemukan dalam ikatan sebuah pernikahan yang penuh dengan keredhoanNya,,, Untuk sebuah harapan yang masih ada di ujung sana dan ujung jakarta sini,,,untukmu

Minggu, 30 Desember 2007

Akhirnya...Aku..Lulus....


Akhirnya aku di wisuda juga loh? Yang paling ingin aku ucapkan ribuan terima kasih adalah untuk orang yg berdiri di samping aku itu. Yap itu adalah ibundaku, dialah orang yg telah memusatkan seluruh perhatiannya hanya untuk kelulusanku. Makasih ya bundaku tercinta, meski dalam berbagai kesempatan aku sering kali membuatmu menitikan air mata, tapi dari lubuk hatiku yg terdalam aku ingin ucapkan...I..Love.. You....Mom... Aku tau engkau pastilah telah menggantungkan beberapa harapan2 terhadapku, namun sekali lagi maafkan anakmu jika nantinya aku akan mengecewakanmu... Kemarin adalah tanggal 29 Desember 2008 dimana hari yang bersejarah bagiku, karena akhirnya aku lulus juga dan sekarang aku memiliki gelar kesarjanaan tapi aku takut jika ilmu yang telah ku dapat akhirnya hanya sia2 saja. Tapi aku juga harus berbangga diri dengan gelar Sarjana Ekonomi Islam yang kini aku sandang, semoga saja menjadi perubahan dalam kehidupanku dan orang banyak Ammiiiiiiiiiii

Senin, 01 Oktober 2007

bunga untuk bundaku

Bunga Indah Utuk Wanita Mulia Yang Kusebut Ibu........


aku mungkin bukan seorang anak yang baik, tapi kadang kala aku merasa menjadi anak yang baik untuk ibuku. Meskipun sampai saat ini aku masih belum bisa mewujudkan impian2nya tapi setidaknya aku menorehkan hal yang baik untuk hidupnya. Keinginannya saat ini adalah memiliki kebun bunga sendiri, dia ingin sekali memiliki berbagai macam jenis tanaman bunga tapi favoritnya adalah bunga mawar. Entah kenapa karekternya pun hampir menyerupai bunga kesayangannya itu, kadang kala dia sangat lembut tapi dia juga sangat keras seperti kerasnya duri2 mawar kesayangannya. Bunda jikalau waktu itu kau tidak lahirkan aku, betapa aku sangat menyesal tidak memiliki ibu sepertimu, karena kau telah memilihku untuk menjadikan aku anakmu maka berikan aku kesempatan untuk membahagiakanmu dengan tenaga dan kemampuan yang ananda miliki saat ini. Bundaku yang kini sudah mulai terlihat keriput diwajahnya, biarlah anakmu ini menjadikan kau sebagai wanita paling bahagia diantara wanita2 lain karena kau memiliki aku dan aku akan selalu memberikan apa yang kiranya membuatmu bahagia jika memanga kehendakmu adalah kebahagiaanmu............

Be My Friend

Happy People